I
finally found a nice te-peng (the famous Malaysian milk tea) in Jakarta!!
Setelah dua tahun mencicipi sana-sini, sampai-sampai beli teh sachet dari
Singapore, akhirnya ketemu juga te-peng yang rasanya persis seperti di
Singapore/Malaysia. Sembari makan menghadap bangku kosong di seberangku, my
mind started to wander…
Kalo dipikir-pikir, waktu pertama datang ke Singapore, aku
gak terlalu suka sama makanan sana. Aku inget sempet mengeluh karena makanannya
tasteless, sambelnya gak pedes, dan masakannya bergelimang minyak (hiiyy…
mungkin ini yang bikin aku gemuk disana:P). Tapi as time went by, aku mulai
menikmati makanan-makanan tersebut. Bahkan sekarang, aku sering banget kangen
sama hokien mee, mee pok, bakut teh, prata, dan chicken rice yang gak bisa aku
temukan disini.
Lain
halnya dengan bokap nyokap. Dulu aku suka bawain oleh-oleh makanan yang gak
dijual di Jakarta, seperti curry puff-nya Old Chang Kie (sekarang sih udah ada
di EX). Guess what they say? Gak enak! Pastel koq isinya kari, aneh banget,
mana bau pula. Emang bener sih… bau karinya lumayan kenceng, aku juga bingung
kenapa aku bisa suka makanan gituan
Aniway,
ternyata selera bisa diubah oleh kebiasaan. Selama 6 tahun di Singapore, I
learned to love the food, dan juga te-peng, yang dinilai oleh bokap nyokap
sebagai minuman ‘aneh’, masa teh dikasi susu… Ngomong-ngomong, dulu adikku juga
kaga doyan te-peng, walau udah dibujuk beberapa kali untuk minum. Tapi sejak
dia sekolah ke Malaysia, she learned to love it. She even goes an extra mile
and takes Indian food, the one I never dare to try, hiii… The bottom line is,
our life in those foreign countries has become more enjoyable when we love the
food and the culture.
Can
you imagine how good life could be, if we just learn to love the people and
things around us?